Kepribadian Muslim itu tidak terbentuk begitu saja, tetapi terbentuk melalui beberapa faktor yang mempengaruhi. Adapun faktor-faktor tersebut adalah:
a. Faktor Biologis
b. Faktor sosial
c. Faktor Kebudayaan.66
a. Faktor biologis.
Yaitu faktor yang berhubungan dengan keadaan jasmani atau sering disebut faktor psikologis. Faktor ini berasal dari keturunan atau pembawaan yang dibawa sejak lahir. Yang mempunyai peranan pada beberapa unsur kepribadian dan mempengaruhi tingkah laku seseorang.
b. Faktor Sosial
yang dimaksud faktor sosial adalah masyarakat, yakni manusia lain disekitar individu yang mempengaruhi individu yang bersangkutan. Termasuk didalamnya adat istiadat peraturn yang berlaku dan bahasa yang digerakkan. Sejak anak dilahirkan sudah mulai bergaul dengan orang sekitar. Pertama-tama dengan keluarga. Keluarga sebagai salah satu faktor sosial yang mempunyai posisi terdepan dalam memberikan pengaruh terhadap pembentukan kepribadian anak. Bagaimanpun juga keluarga terutama orang tua adalah pembina pribadi pertama dalam hidup manusia sebelum mereka mengenal dunia luar.
Disamping keluarga, sekolah juga mempengaruhi pembentukan kepribadian anak. Bahkan sekolah dianggap sebagai faktor terpenting setelah keluarga, sekolah adalah merupakan jenjang kedua dalam pebentukan kepribadian muslim.
Dengan demikian nyatalah betapa besar pengaruh faktor sosial yang diterima anak dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari dari kecil sampai besar terhadap perkembangan dan pembentukan kepribadian seseorang.
c. Faktor Kebudayaan.
Sebenarnya faktor kebudayaan ini termasuk pula didalamnya faktor sosial. Karena kebudayaan tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.
Perkembangan dan pembentukan kepribadian pada masing-masing orang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakat dimana anak itu dibesarkan. Karena setiap kebudayaan mempunyai nilai yang harus dijunjung tinggi oleh manusia yang hidup dalam kebudayaan tersebut.
Mentaati dan mematuhi nilai dalam kebudayaan itu menjadi kewajiban bagi setiap anggota masyarakat kebudayaan. Disamping itu harus mempunyai kepribadian yang selaras dengan kebudayaan yang berlaku dalam masyarakat.
Dari uraian tersebut dapat kesimpalan bahwasanya kepribadian seseorang tumbuh dan berkembang atas dua kekuatan, yaitu kekuatan dari dalam yang berupa faktor biologis dan kekuatan dari luar yang berupa faktor sosial dan faktor kebudayaan. Dalam hal ini Ki Hajar Dewantara menggunakan faktor ajar bagi faktor eksteral dan faktor dasar bagi faktor intern.
Rabu, 26 Oktober 2011
Peranan Pendidikan Islam Dalam Pembentukan Pribadi Muslim
Ketentuan-ketentuan mengenai apa yang disebut kepribadian muslim adalah lebih abstark lagi dari pada kedewasaan rohaniah. Lebih sulit pulalah untuk menentukan bila masanya dan siapa-siapa yang telah mencapai keadaan itu. Sesungguhnya penentuan mengenai hal itu bukanlah wewenag manusia. Tuhanlah yang menetukan siapa-siapa dia antara hamba-Nya yang betul-betul telah mencapai tujuan itu. Pendidikan dapat diusahakan manusia, tetapi penialain tertinggi mengenai hasilnya adalah Tuhan Yang Maha mangetahui. Kita hanya dapat mengetahui dari cirinya saja yaitu adanya perubahan sikap dan tingkah laku sesuai petunjuk ajaran Islam.
Untuk menunjang itu semua perlu adanya usaha, kegiatan, cara, alat dan lingkungan hidup yang menunjang keberhasilannya sebagaimana orang mekkah yang tadinya peyembah berhala, musyrik, kafir, kasar dan sombong. Maka dengan usaha dan kegiatan Nabi meng-Islamkan mereka berubah menjadi penyembah Allah Yang Maha Esa. Mukmin-mukmin muslim lemah-lembut dan menghormati orang lain. Mereka telah berkepribadian muslim sebagaimana yang diajarkan oleh ajaran Islam. Dengan itu Nabi telah mendidik , membentuk kepribadian yaitu kepribadian muslim dan sekaligus berarati bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pendidik yang berhasil. Apa yang beliau lakukan dalam membentuk manusia, kita rumuskan sekarang dalam pendidikan Islam. Dengan demikian secara umum dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam itu adalah pembentukan kepribadian muslim.
Kepribadian muslim itu adalah kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya yakni baik tingkah lakunya, kegiatan-kegiatan jiiwanya, maupun filsafat hidup dan kepercayaanya menunjukkan pengabdian terhadap Tuhan, menyerahkan diri terhadap-Nya. Dan hanya dengan melalui proses pendidikan yang terencana baik, kepribadian manusia dapat dikembangkan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan atau paling tidak, dapat mendekati tujuan tersebut.68
Seorang muslim hendaklah berusaha melatih diri agar mempunyai vitalitas yang kuat, stabil, terarah, dan mantap. Walaupun vitalitas itu lebih ditentukan oleh faktor pembawaan terutama tenaga pendorongnya, namun dengan membiasakan diri bekerja dengan semangat tinggi, kemauan keras dan penuh gairah, maka potensi kekuatan vitalitas itu akan terlihat secara optimal. Nabi Muhammad Saw. Adalah seorang yang memiliki vitalitas prima. Beliau adalah seorang penunggang kuda yang baik, pemain pedang, dan pemanah. Oleh karena itu vitalitas muslim harus diarahkan pada pelaksanan perintah agama yaitu merealisasikan diri sebagai hamba dan khalifah Allah. Sebagai khalifah Allah ia harus rajin bekerja, ulet dan tabah mengahadapi cobaan dan godaan, penuh inisiatif dalam mengolah, memakmurkan dan memelihara bumi beserta isinya. Ia harus berupaya sekuat kemampuan untuk mensejahterakan umat manusia. Sabda Nabi; “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seperti engakau akan mati besok”.69
Adapun ciri kepribadian yang dapat di fahami dari orang lain ialah ciri yang tipkal, yaitu ciri kepribadian yang tidak umum dan juga tidak individual, akan tetapi ciri yang ada pada sekelompok orang secara bersama memiliki ciri tesebut seperti rasional, pemikir, emosional, perasa, ekstravert, introvert, pemarah, pemalu, pendendam, pemaaf, penipu, politikus, ekonomis, dan ciri lain yang sejenis. Ciri-ciri tersebut sering disebut sifat-sifat kepribadian. Ciri yang tipikal itu bukan berupa isi atau proses kejiwaan aktual akan tetapi berupa disposisi atau kecenderungan yang bersifat habitual dan secara relatif menetap pada pribadi individual tersebut.70
Dalam hubungannya dengan pendidikan Islam pengembangan kepribadian seseorang merupakan suatu keadaan bagi perwujudan nilai-nilai dan norma-norma Islam. Nilai dan norma Islami yang harus di internalisasi kedalam pribadi sesorang, dijabarkan kedalam sistem kependidikan secara makro dan mikro. Secara makro berarti nilai dari norma Islami mendasari proses penetapan kebijakan umum yang mengarahkan dan memberi ruang lingkup perencanaan program operasional kependidikan, baik secara institusional maupun psikologis. Sedangkan secara mikro berarti pendidikan secara operasional sebagai proses yang melaksanakan program-program kependidikan yang bertujuan merealisasikan nilai-nilai dan norma Islami tersebut.
Dan pendidik bukan hanya bertugas menyediakan dan menciptakan kondisi belajar yang kondusif bagi subyek didik, tetapi lebih dari itu dituntut turut membentuk kepribadiannya dengan turut menampilkan keteladanan-keteladanannya.
Dari uraian diatas dapat diambil suatu benang merah bahwasanya pendidikan terutama pendidikan agama Islam sangatlah berperan penting terhadap pembentukan kepribadian muslim. Karena pendidikan Islam itu sendiri adalah proses transformasi nilai-nilai dan norma-norma Islam dalam pribadi anak didik. Selain itu juga tujuan utama dari pendidikan Islam adalah untuk menyempurnakan cita (idealitas) dari kepribadian yang dibinanya.
Bagi umat Islam usaha pengembangan pribadi muslim ini benar-benar sudah dipermudah dengan adanya anugerah Allah Swt berupa sarana-sarana yang sangat vital untuk mengembangkan pribadi Muslim. Sarana-sarana itu adalah: tuntuna al-Quran yang mahabenar dengan al-Hadits sebagai petunjuk pelaksananya, ibadah–ibadah yang dapat mempertinggi derajat keruhanian, dan potensi-potensi serta kemampuan luar biasa manusia yang menandakan mereka tergolong makhluk bermartabat yang mampu mengubah nasib sendiri. Bahkan dipermudah dengan adanya tokoh idaman dan tokoh umat, yaitu: Nabi Muhammad Saw sendiri yang dimasyhurkan memiliki akhlak al-Quran, keluhuran budi pekertinya mendapatkan pujian langsung dari Allah, dan memperbaiki akhlak manusia merupakan salah satu missi kerasulannya.
Masalahnya adalah: Maukah kita meningkatkan diri kearah citra pribadi Muslim yang digambarkan al-Quran? Bersediakah? Kalau mau mulailah sat ini juga. Bismillahirrahmanirrahim.71
Dengan melihat arti pendidikan Islam dan ruanglingkupnya, jelaslah bahwa dengan pendidikan Islam kita berusaha untuk membentuk manusia yang berkepribadian kuat dan baik (berakhlak ulkarimah) berdasarkan pada ajaran agama Islam.
Oleh karena itulah pendidikan Islam sangat penting sebab dengan pendidikan Islam, orang tua atau guru berusaha secara sadar memimpin dan mendidik anak diarahkan kepada perkemabangan jasmani dan rohani sehingga mampu membentuk kepribadian yang utama yang sesuai dengan ajaran agama Islam.
Jadi, perkembangan agama pada seseorang sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman hidupnya sejak kecil; baik dalam keluarga, sekolah, maupan dalam lingkungan masyarakat terutama pada masa pertumbuhan perkembangannya.
Oleh sebab itu, seyogyanyalah pendidikan agama Islam ditanamkan dalam pribadi anak sejak ia lahir bahkan sejak dalam kandungan dan kemudian hendaklah dilanjutkan pembinaan pendidikan ini disekolah, mulai dari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi.
Bagi umat Islam tentunya pendidikan agama yang wjib diikutinya yaitu adalah pendidikan agama Islam. dalam hal ini pendidikan agama Islam mempunyai tujuan kurikuler yang merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang termaktub dalam undang-undang sistem pendidikan nasional No.20 tahun 2003, yaitu:
pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dalam mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional, pendidikan agama Islam disekolah memegang peranan penting. Mengingat betapa pentingnya pendidikan agama Islam dalam mewujudkan harapan setiap orang tua, masyarakat, stakeholder dan membantu terwujudnya tujuan pendidikan nasional, maka pendidikan agama Islam harus diberikan dan dilaksanakan disekolah dengan sebaik-baiknya.72
Untuk menunjang itu semua perlu adanya usaha, kegiatan, cara, alat dan lingkungan hidup yang menunjang keberhasilannya sebagaimana orang mekkah yang tadinya peyembah berhala, musyrik, kafir, kasar dan sombong. Maka dengan usaha dan kegiatan Nabi meng-Islamkan mereka berubah menjadi penyembah Allah Yang Maha Esa. Mukmin-mukmin muslim lemah-lembut dan menghormati orang lain. Mereka telah berkepribadian muslim sebagaimana yang diajarkan oleh ajaran Islam. Dengan itu Nabi telah mendidik , membentuk kepribadian yaitu kepribadian muslim dan sekaligus berarati bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pendidik yang berhasil. Apa yang beliau lakukan dalam membentuk manusia, kita rumuskan sekarang dalam pendidikan Islam. Dengan demikian secara umum dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam itu adalah pembentukan kepribadian muslim.
Kepribadian muslim itu adalah kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya yakni baik tingkah lakunya, kegiatan-kegiatan jiiwanya, maupun filsafat hidup dan kepercayaanya menunjukkan pengabdian terhadap Tuhan, menyerahkan diri terhadap-Nya. Dan hanya dengan melalui proses pendidikan yang terencana baik, kepribadian manusia dapat dikembangkan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan atau paling tidak, dapat mendekati tujuan tersebut.68
Seorang muslim hendaklah berusaha melatih diri agar mempunyai vitalitas yang kuat, stabil, terarah, dan mantap. Walaupun vitalitas itu lebih ditentukan oleh faktor pembawaan terutama tenaga pendorongnya, namun dengan membiasakan diri bekerja dengan semangat tinggi, kemauan keras dan penuh gairah, maka potensi kekuatan vitalitas itu akan terlihat secara optimal. Nabi Muhammad Saw. Adalah seorang yang memiliki vitalitas prima. Beliau adalah seorang penunggang kuda yang baik, pemain pedang, dan pemanah. Oleh karena itu vitalitas muslim harus diarahkan pada pelaksanan perintah agama yaitu merealisasikan diri sebagai hamba dan khalifah Allah. Sebagai khalifah Allah ia harus rajin bekerja, ulet dan tabah mengahadapi cobaan dan godaan, penuh inisiatif dalam mengolah, memakmurkan dan memelihara bumi beserta isinya. Ia harus berupaya sekuat kemampuan untuk mensejahterakan umat manusia. Sabda Nabi; “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seperti engakau akan mati besok”.69
Adapun ciri kepribadian yang dapat di fahami dari orang lain ialah ciri yang tipkal, yaitu ciri kepribadian yang tidak umum dan juga tidak individual, akan tetapi ciri yang ada pada sekelompok orang secara bersama memiliki ciri tesebut seperti rasional, pemikir, emosional, perasa, ekstravert, introvert, pemarah, pemalu, pendendam, pemaaf, penipu, politikus, ekonomis, dan ciri lain yang sejenis. Ciri-ciri tersebut sering disebut sifat-sifat kepribadian. Ciri yang tipikal itu bukan berupa isi atau proses kejiwaan aktual akan tetapi berupa disposisi atau kecenderungan yang bersifat habitual dan secara relatif menetap pada pribadi individual tersebut.70
Dalam hubungannya dengan pendidikan Islam pengembangan kepribadian seseorang merupakan suatu keadaan bagi perwujudan nilai-nilai dan norma-norma Islam. Nilai dan norma Islami yang harus di internalisasi kedalam pribadi sesorang, dijabarkan kedalam sistem kependidikan secara makro dan mikro. Secara makro berarti nilai dari norma Islami mendasari proses penetapan kebijakan umum yang mengarahkan dan memberi ruang lingkup perencanaan program operasional kependidikan, baik secara institusional maupun psikologis. Sedangkan secara mikro berarti pendidikan secara operasional sebagai proses yang melaksanakan program-program kependidikan yang bertujuan merealisasikan nilai-nilai dan norma Islami tersebut.
Dan pendidik bukan hanya bertugas menyediakan dan menciptakan kondisi belajar yang kondusif bagi subyek didik, tetapi lebih dari itu dituntut turut membentuk kepribadiannya dengan turut menampilkan keteladanan-keteladanannya.
Dari uraian diatas dapat diambil suatu benang merah bahwasanya pendidikan terutama pendidikan agama Islam sangatlah berperan penting terhadap pembentukan kepribadian muslim. Karena pendidikan Islam itu sendiri adalah proses transformasi nilai-nilai dan norma-norma Islam dalam pribadi anak didik. Selain itu juga tujuan utama dari pendidikan Islam adalah untuk menyempurnakan cita (idealitas) dari kepribadian yang dibinanya.
Bagi umat Islam usaha pengembangan pribadi muslim ini benar-benar sudah dipermudah dengan adanya anugerah Allah Swt berupa sarana-sarana yang sangat vital untuk mengembangkan pribadi Muslim. Sarana-sarana itu adalah: tuntuna al-Quran yang mahabenar dengan al-Hadits sebagai petunjuk pelaksananya, ibadah–ibadah yang dapat mempertinggi derajat keruhanian, dan potensi-potensi serta kemampuan luar biasa manusia yang menandakan mereka tergolong makhluk bermartabat yang mampu mengubah nasib sendiri. Bahkan dipermudah dengan adanya tokoh idaman dan tokoh umat, yaitu: Nabi Muhammad Saw sendiri yang dimasyhurkan memiliki akhlak al-Quran, keluhuran budi pekertinya mendapatkan pujian langsung dari Allah, dan memperbaiki akhlak manusia merupakan salah satu missi kerasulannya.
Masalahnya adalah: Maukah kita meningkatkan diri kearah citra pribadi Muslim yang digambarkan al-Quran? Bersediakah? Kalau mau mulailah sat ini juga. Bismillahirrahmanirrahim.71
Dengan melihat arti pendidikan Islam dan ruanglingkupnya, jelaslah bahwa dengan pendidikan Islam kita berusaha untuk membentuk manusia yang berkepribadian kuat dan baik (berakhlak ulkarimah) berdasarkan pada ajaran agama Islam.
Oleh karena itulah pendidikan Islam sangat penting sebab dengan pendidikan Islam, orang tua atau guru berusaha secara sadar memimpin dan mendidik anak diarahkan kepada perkemabangan jasmani dan rohani sehingga mampu membentuk kepribadian yang utama yang sesuai dengan ajaran agama Islam.
Jadi, perkembangan agama pada seseorang sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman hidupnya sejak kecil; baik dalam keluarga, sekolah, maupan dalam lingkungan masyarakat terutama pada masa pertumbuhan perkembangannya.
Oleh sebab itu, seyogyanyalah pendidikan agama Islam ditanamkan dalam pribadi anak sejak ia lahir bahkan sejak dalam kandungan dan kemudian hendaklah dilanjutkan pembinaan pendidikan ini disekolah, mulai dari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi.
Bagi umat Islam tentunya pendidikan agama yang wjib diikutinya yaitu adalah pendidikan agama Islam. dalam hal ini pendidikan agama Islam mempunyai tujuan kurikuler yang merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang termaktub dalam undang-undang sistem pendidikan nasional No.20 tahun 2003, yaitu:
pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dalam mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional, pendidikan agama Islam disekolah memegang peranan penting. Mengingat betapa pentingnya pendidikan agama Islam dalam mewujudkan harapan setiap orang tua, masyarakat, stakeholder dan membantu terwujudnya tujuan pendidikan nasional, maka pendidikan agama Islam harus diberikan dan dilaksanakan disekolah dengan sebaik-baiknya.72
Konsep Kepribadian Muslim
Bangsa indonesia telah memiliki falsafah hidup pancasila, yang sekaligus menjadi falsafah pendidikan nasional, juga mempunyai cita-cita membangun dan membentuk kepribadian bangsa yaitu kepribadian manusia seutuhnya yang memiliki ciri-ciri khas sebagai bangsa indonesia.
Bahwa pembangunan bangsa dan watak bangsa harus dimulai dengan membangun manusia seutuhnya, sebagai peran pada manusia pancasila. Realisasi kepribadian ini memberikan suatu keputusan yang ideal adalah manusai seutuhnya sehinga perlu adanya pemikiran yang konseptual tentang terwujudnya manusia seutuhnya tersebut.
Bahwa hakekat martabat manusia adalah merupakan kesatuan yang integral, yang meliputi:
a. Manusia sebagi makhluk individu
b. Manusia sebagai makhluk sosial
c. Manusia sebagai makhluk susila
d. Manusia sebagai makhluk ber-Tuhan.58
Untuk memberi gambaran yang lebih jelas, maka penulis akan menguraikan sebagai berikut:
a. Manusia sebagai makluk individu.
Manusia sebagai makhluk individu, berarti manusia merupakan keseluruhan yang tak bisa dibagi. Sehingga dapat diambil suatu pengertian, bahwa manusia tidak dapat dipisahkan antara jiwa dan raganya, rohani maupun jasmaninya. Sehingga kegiatan jiwa manusia dalam kehidupan sehari-hari merupakn kegiatan keseluruhan jiwa raga yang tak terlepas dari yang lain.
Hal ini sesuai dengan konsep Islam tentang kepribadian individualitas manusia. Dimana manusia secara individual harus bertanggung jawab terhadap perbuatannya, firman Allah dalam surat Al-Baqoror ayat 286 sebagai berikut:
لاَيُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَااكْتَسَبَتْ (البقره: ۲٨٦)
Artinya: Allah tidak Membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.59.(Al-Baqoroh:286).
b. Manusia sebagai makhluk sosial
manusia secara hakiki merupakan makhluk sosial. Sejak lahir manusia memerlukan pergaulan dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan biologinya dan lain-lain. Tanpa pergaulan hidup dengan sesama manusia, maka manusia yang baru lahir tidak akan dapat menjadi manusia yang sebenarnya.
Didalam konsep Islam tentang sosialitas manusia menghendaki agar setiap orang Islam selalu memelihara hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia, serta menanamkan rasa persaudaraan dan tolong menolong antar sesamanya.60 sebagaimana firman Allah surat Al-Maidah ayat 2 sebagai berikut:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمْ وَالْعُدْوَانِ ( المائدة: ۲)
Artinya: Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran.61 (Al-Maidah:2).
Dengan demikian Islam menghendaki agar setiap muslim untuk mengembangkan keseimbangan antar kehidupan individu dan kehidupan sosial.
c. Manusia sebagai makhluk susila.
Secara firah manusia memiliki kekuatan moral yang dibawa sejak lahir dan berkembang bersama dengan perkembangan pribadinya.
Manusia dilahirkan dalam kehidupan masyarakat yang sudah jadi, dimana manusia sudah memiliki nilai-nilai baik dan buruk diantara tingkah laku, serta norma sosial yang harus dijalankan. Dalam konsep Islam, moral menimpati tempat paling utama setelah manusia beriman kepada Allah,62 hal ini sesuai dengan firman Allah yang mengkaitkan tentang iman dan amal sholeh dalam surat An-Nisa’ ayat 124:
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصّلِحَةِ مِنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولئِكَ يَدْخُلُوْنَ الُجَنَّةَ
وِلاَيُظْلَمُوْنَ نَقِيْرًا ( النساء: ۱۲٤)
Artinya: Barang siapa mengerjakan amal sholeh baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk kedalam sorga dan mereka tidak dianiaya walaupun sedikit.63 (An-Nisa’:124).
d. Manusia sebagai makhluk bertuhan.
Setiap manusia pasti membutuhkan adanya pedoman hidup yang berupa agama, karena agama merupakan firah manusia yang telah dibawa sejak lahir, bahkan waktu manusia masih berada didalam arwah, mereka sudah mengakui adanya Tuhan atau Allah.64 Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-A’raaf ayat 172.
وَاِذْ أًخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِيْ ادَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلَى اَنْفُسِهِمْ اَلَسْتُ
ِبرَبِّكُمْ قَالُوْا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هذَا غفِلِيْنَ
(الاعراف : ۱٧۲)
Artinya: Dengan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan anak cucu adam dari tulang belakang mereka dan dia jadikan mereka itu saksi atas diri mereka. Allah berfirman,”Bukankah aku itu Tuhanmu?”Mereka menjawab,”Benar, kami menjadi saksi yang demikian itu agar kamu tidak berkata pada hari kiamat,” Sesungguhnya kami lalai dari ini.65 (Al-A’rof: 172).
Bertolak dari ayat-ayat diatas, sehingga dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya setiap manusia itu telah membawa potensi dasar atau kodrat untuk beragam Islam, kalau mereka menganut agam-agama lain, itu adalah disebabkan karena pengaruh pendidikan atau lingkungan.
Bahwa pembangunan bangsa dan watak bangsa harus dimulai dengan membangun manusia seutuhnya, sebagai peran pada manusia pancasila. Realisasi kepribadian ini memberikan suatu keputusan yang ideal adalah manusai seutuhnya sehinga perlu adanya pemikiran yang konseptual tentang terwujudnya manusia seutuhnya tersebut.
Bahwa hakekat martabat manusia adalah merupakan kesatuan yang integral, yang meliputi:
a. Manusia sebagi makhluk individu
b. Manusia sebagai makhluk sosial
c. Manusia sebagai makhluk susila
d. Manusia sebagai makhluk ber-Tuhan.58
Untuk memberi gambaran yang lebih jelas, maka penulis akan menguraikan sebagai berikut:
a. Manusia sebagai makluk individu.
Manusia sebagai makhluk individu, berarti manusia merupakan keseluruhan yang tak bisa dibagi. Sehingga dapat diambil suatu pengertian, bahwa manusia tidak dapat dipisahkan antara jiwa dan raganya, rohani maupun jasmaninya. Sehingga kegiatan jiwa manusia dalam kehidupan sehari-hari merupakn kegiatan keseluruhan jiwa raga yang tak terlepas dari yang lain.
Hal ini sesuai dengan konsep Islam tentang kepribadian individualitas manusia. Dimana manusia secara individual harus bertanggung jawab terhadap perbuatannya, firman Allah dalam surat Al-Baqoror ayat 286 sebagai berikut:
لاَيُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَااكْتَسَبَتْ (البقره: ۲٨٦)
Artinya: Allah tidak Membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.59.(Al-Baqoroh:286).
b. Manusia sebagai makhluk sosial
manusia secara hakiki merupakan makhluk sosial. Sejak lahir manusia memerlukan pergaulan dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan biologinya dan lain-lain. Tanpa pergaulan hidup dengan sesama manusia, maka manusia yang baru lahir tidak akan dapat menjadi manusia yang sebenarnya.
Didalam konsep Islam tentang sosialitas manusia menghendaki agar setiap orang Islam selalu memelihara hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia, serta menanamkan rasa persaudaraan dan tolong menolong antar sesamanya.60 sebagaimana firman Allah surat Al-Maidah ayat 2 sebagai berikut:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمْ وَالْعُدْوَانِ ( المائدة: ۲)
Artinya: Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran.61 (Al-Maidah:2).
Dengan demikian Islam menghendaki agar setiap muslim untuk mengembangkan keseimbangan antar kehidupan individu dan kehidupan sosial.
c. Manusia sebagai makhluk susila.
Secara firah manusia memiliki kekuatan moral yang dibawa sejak lahir dan berkembang bersama dengan perkembangan pribadinya.
Manusia dilahirkan dalam kehidupan masyarakat yang sudah jadi, dimana manusia sudah memiliki nilai-nilai baik dan buruk diantara tingkah laku, serta norma sosial yang harus dijalankan. Dalam konsep Islam, moral menimpati tempat paling utama setelah manusia beriman kepada Allah,62 hal ini sesuai dengan firman Allah yang mengkaitkan tentang iman dan amal sholeh dalam surat An-Nisa’ ayat 124:
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصّلِحَةِ مِنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولئِكَ يَدْخُلُوْنَ الُجَنَّةَ
وِلاَيُظْلَمُوْنَ نَقِيْرًا ( النساء: ۱۲٤)
Artinya: Barang siapa mengerjakan amal sholeh baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk kedalam sorga dan mereka tidak dianiaya walaupun sedikit.63 (An-Nisa’:124).
d. Manusia sebagai makhluk bertuhan.
Setiap manusia pasti membutuhkan adanya pedoman hidup yang berupa agama, karena agama merupakan firah manusia yang telah dibawa sejak lahir, bahkan waktu manusia masih berada didalam arwah, mereka sudah mengakui adanya Tuhan atau Allah.64 Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-A’raaf ayat 172.
وَاِذْ أًخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِيْ ادَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلَى اَنْفُسِهِمْ اَلَسْتُ
ِبرَبِّكُمْ قَالُوْا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هذَا غفِلِيْنَ
(الاعراف : ۱٧۲)
Artinya: Dengan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan anak cucu adam dari tulang belakang mereka dan dia jadikan mereka itu saksi atas diri mereka. Allah berfirman,”Bukankah aku itu Tuhanmu?”Mereka menjawab,”Benar, kami menjadi saksi yang demikian itu agar kamu tidak berkata pada hari kiamat,” Sesungguhnya kami lalai dari ini.65 (Al-A’rof: 172).
Bertolak dari ayat-ayat diatas, sehingga dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya setiap manusia itu telah membawa potensi dasar atau kodrat untuk beragam Islam, kalau mereka menganut agam-agama lain, itu adalah disebabkan karena pengaruh pendidikan atau lingkungan.
Ciri-ciri Kepribadian Muslim
Dengan menyimak pengertian dan batasan kepribadian muslim di atas, bahwa dasar kepribadian muslim adalah ajaran-ajaran Islam. Maka aspek-aspek yang dibangunnya tentu dilandasi dengan ajaran Islam pula..
Untuk itu adapun ciri-ciri kepribadian muslim diantaranya adalah:
1. Beriman
2. Beramal
3. Berakhlak Mulia.
1. Beriman
seseorang dikatakan berkepribadian muslim apabila didalam hatinya telah tertanam keimanan atau keyakinan tentang adanya Tuhan Allah Yang Maha Esa, Malaikat malaikat-nya, Kitab-kitab-nya, Rasul-rasul-nya, Hari Kiamat dan Qodarnya. Keyakinan itu disertai dengan pengakuan yang diucapkan dalam bentuk syahadat. Kemudian dibuktikan dalam bentuk amalan yang nyata yaitu beribadah kepada Allah.
Rumusan ini telah disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Nisa’ ayat 136 sebagai berikut:
يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا امِنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَالْكِتبِ الَّذِيْ نَزَّلَ عَلَى رَسُوْلِهِ وَالْكِتبِ
الَّذِيْ أَنْزَلَ مِنْ قَبْلِ وَمَنْ يَكْفُرُ باِللهِ وَمَلئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرَسُوْلِهِ وَالْيَوْمِ الاخِرِ
فَقَدْ ضَلََّ ضَللاً بَعِِيْدًا (النساء: )
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman , tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya serta kitab Allah yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitabnya, Rasul-rasul-Nya dan hari kemudian maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.53(Al-Nisa’:136).
Keimanan merupakan ciri pokok yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Dengan kepercayaan kepada Allah itu akan mempunyai efek kepercayaan kepada unsur lainnya yaitu percaya kepada Malaikat dan Rasul-Nya. Percaya kepada Rasul-Nya mengakibatkan percaya kepada kitab-kitab-Nya yang berisi peraturan dan ajaran-ajaran dari Allah selanjutnya akan percaya hari kiamat dan qodarnya.
2. Beramal.
Kepribadian muslim adalah kepribadian yang tingkah lakunya menunjukkan diri pengabdian kepada Allah.
Penyerahan dan pengabdian diri kepada Allah dan beramal sholeh yaitu berbuat kebaikan sesuai dengan ajaran-ajaran Islam yang tertulis dalam sabda nabi sebagai berikut:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْاِسْلاَمَ عَلَى خَمْسٍ
شَهَادَةُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلِ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ
وَالْحَجُّ وَالصَّوْمُ رَمَضَانَ (رواه البخارى)
Artinya: ”Dari ibnu Umar bersabda Rasulullah SAW.” Dirikanlah Islam atas lima perkara yaitu:
1. Mengakui tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah
2. Mengerjakan Sholat
3. Mengerjakan Puasa Ramadhan
4. Membayar zakat
5. Menuniakan ibadah haji bagi yang mampu.54(HR.Bukhari).
Kepribadian muslim adalah kepribadian dimana setelah ia beriman akan dilanjutkan dengan melaksanakan syariat Islam dengan patuh mengerjakan ibadah sesuai dengan rukun Islam dengan penuh kesadaran dan pengertian.
Allah juga mengingatkan bahwa barang siapa yang betul-betul beriman dan mengaharap perjumpaan dengan-Nya di akhirat supaya beramal sholeh, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Kahfi ayat 110 sebagai berikut:
قُلْ اِنَّمَا اَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوْحِىْ اِلَىَّ اَنَّمَا اِلهُكُمْ اِلهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاءَ
رَبِّهِ, فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ اَحَدًا (الكهف: ۱۱۰)
Artinya: ”Katakanlah: sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku:”Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhan, maka hendaklah ia mengerjakan amal sholeh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.55 (Al-Kahfi:110).
3. Berakhlak Mulia.
Berkahlak mulia merupakan tingkah laku atau budi pekerti yang diajarkan dalam Islam. Jadi selain mereka yang berkepribadian, mereka harus taqwa, taat menjalankan ajaran-ajaran agama, harus memiliki budi pekerti yang luhur atau akhlak yang mulia. Akhlak mulia menurut ukuran Islam ialah setiap perbuatan yang sesuai dengan apa yang diperintahkan dalam Al-Qur’an dan Hadits.
Tuhan telah memperintahkan kita untuk menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, sebagaimana firmannya dalam surat Al-Qoshos ayat 77 sebagai berikut:
وَابْتَغِ فِيْمَا اتكَ اللهُ الدَّارَ الْاخِرَةِ وَلاَتَنْسَى نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَااَحْسَنَ اللهُ اِلَيْكَ وَلاَتَبْغِ الْفَسَادَ فِيْ الْاَرْضِ اِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ (القصص: ٧٧ )
Artinya: ”Dan carilah apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan negeri akhirat), dan janganlah kamu melupakan bahagiamu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepadaorang lain) sebagaiman Allah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.56 (Al-Qoahos: 77)
Dari ayat tersebut jelaslah, Allah menghendaki agar umat manusia (terutama orang Islam) berbuat baik, berbudi pekerti luhur. Dan Allah sangat membenci orang-orang yang berbuat kerusakan dimuka bumi ini.
Akhlak mulia yang dikehendaki oleh Islam telah tercermin dalam pribadi Nabi Muhammad SAW. Beliau telah memberi contoh akhlak yang mulia yaitu melalui perkataan, perbuatan dan tingkah lakunya.
Untuk itu adapun ciri-ciri kepribadian muslim diantaranya adalah:
1. Beriman
2. Beramal
3. Berakhlak Mulia.
1. Beriman
seseorang dikatakan berkepribadian muslim apabila didalam hatinya telah tertanam keimanan atau keyakinan tentang adanya Tuhan Allah Yang Maha Esa, Malaikat malaikat-nya, Kitab-kitab-nya, Rasul-rasul-nya, Hari Kiamat dan Qodarnya. Keyakinan itu disertai dengan pengakuan yang diucapkan dalam bentuk syahadat. Kemudian dibuktikan dalam bentuk amalan yang nyata yaitu beribadah kepada Allah.
Rumusan ini telah disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Nisa’ ayat 136 sebagai berikut:
يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا امِنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَالْكِتبِ الَّذِيْ نَزَّلَ عَلَى رَسُوْلِهِ وَالْكِتبِ
الَّذِيْ أَنْزَلَ مِنْ قَبْلِ وَمَنْ يَكْفُرُ باِللهِ وَمَلئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرَسُوْلِهِ وَالْيَوْمِ الاخِرِ
فَقَدْ ضَلََّ ضَللاً بَعِِيْدًا (النساء: )
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman , tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya serta kitab Allah yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitabnya, Rasul-rasul-Nya dan hari kemudian maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.53(Al-Nisa’:136).
Keimanan merupakan ciri pokok yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Dengan kepercayaan kepada Allah itu akan mempunyai efek kepercayaan kepada unsur lainnya yaitu percaya kepada Malaikat dan Rasul-Nya. Percaya kepada Rasul-Nya mengakibatkan percaya kepada kitab-kitab-Nya yang berisi peraturan dan ajaran-ajaran dari Allah selanjutnya akan percaya hari kiamat dan qodarnya.
2. Beramal.
Kepribadian muslim adalah kepribadian yang tingkah lakunya menunjukkan diri pengabdian kepada Allah.
Penyerahan dan pengabdian diri kepada Allah dan beramal sholeh yaitu berbuat kebaikan sesuai dengan ajaran-ajaran Islam yang tertulis dalam sabda nabi sebagai berikut:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْاِسْلاَمَ عَلَى خَمْسٍ
شَهَادَةُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلِ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ
وَالْحَجُّ وَالصَّوْمُ رَمَضَانَ (رواه البخارى)
Artinya: ”Dari ibnu Umar bersabda Rasulullah SAW.” Dirikanlah Islam atas lima perkara yaitu:
1. Mengakui tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah
2. Mengerjakan Sholat
3. Mengerjakan Puasa Ramadhan
4. Membayar zakat
5. Menuniakan ibadah haji bagi yang mampu.54(HR.Bukhari).
Kepribadian muslim adalah kepribadian dimana setelah ia beriman akan dilanjutkan dengan melaksanakan syariat Islam dengan patuh mengerjakan ibadah sesuai dengan rukun Islam dengan penuh kesadaran dan pengertian.
Allah juga mengingatkan bahwa barang siapa yang betul-betul beriman dan mengaharap perjumpaan dengan-Nya di akhirat supaya beramal sholeh, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Kahfi ayat 110 sebagai berikut:
قُلْ اِنَّمَا اَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوْحِىْ اِلَىَّ اَنَّمَا اِلهُكُمْ اِلهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاءَ
رَبِّهِ, فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ اَحَدًا (الكهف: ۱۱۰)
Artinya: ”Katakanlah: sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku:”Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhan, maka hendaklah ia mengerjakan amal sholeh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.55 (Al-Kahfi:110).
3. Berakhlak Mulia.
Berkahlak mulia merupakan tingkah laku atau budi pekerti yang diajarkan dalam Islam. Jadi selain mereka yang berkepribadian, mereka harus taqwa, taat menjalankan ajaran-ajaran agama, harus memiliki budi pekerti yang luhur atau akhlak yang mulia. Akhlak mulia menurut ukuran Islam ialah setiap perbuatan yang sesuai dengan apa yang diperintahkan dalam Al-Qur’an dan Hadits.
Tuhan telah memperintahkan kita untuk menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, sebagaimana firmannya dalam surat Al-Qoshos ayat 77 sebagai berikut:
وَابْتَغِ فِيْمَا اتكَ اللهُ الدَّارَ الْاخِرَةِ وَلاَتَنْسَى نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَااَحْسَنَ اللهُ اِلَيْكَ وَلاَتَبْغِ الْفَسَادَ فِيْ الْاَرْضِ اِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ (القصص: ٧٧ )
Artinya: ”Dan carilah apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan negeri akhirat), dan janganlah kamu melupakan bahagiamu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepadaorang lain) sebagaiman Allah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.56 (Al-Qoahos: 77)
Dari ayat tersebut jelaslah, Allah menghendaki agar umat manusia (terutama orang Islam) berbuat baik, berbudi pekerti luhur. Dan Allah sangat membenci orang-orang yang berbuat kerusakan dimuka bumi ini.
Akhlak mulia yang dikehendaki oleh Islam telah tercermin dalam pribadi Nabi Muhammad SAW. Beliau telah memberi contoh akhlak yang mulia yaitu melalui perkataan, perbuatan dan tingkah lakunya.
Aspek-Aspek Kepribadian Muslim
Pada garis besarnya aspek-aspek kepribadian itu dapat digolongkan dalam tiga Hal:
1. Aspek-aspek kejasmanian meliputi tingkah laku luar yang mudah nampak dan ketahuan dari luar, misalnya cara berbuat, berbicara dan sebagainya.
2. Aspek-Aspek kejiwaan meliputi aspek-aspek yang tidak segera dapat dilihat dan ketahuan dari luar, misalnya: cara-caranya berfikir, sikap dan minat.
3. Aspek-aspek kerohanian yang luhur: meliputi aspek kejiwaan yang lebih abstrak yaitu filasafat hidup dan kepercayaan. Ini meliputi sistem nilai yang telah meresap dalam kepribadian, yang telah menjadi bagian dan mendarah daging dalam kepribadin atau dan memberi corak seluruh individu tersebut. Bagi orang-orang yang beragama, aspek-aspek inilah yng menuntutnya kearah kebahagiaan, bukan saja didunia tetapi juga di akhirat. Aspek-aspek inilah memberi kualitas kepribadian keseluruhannya. Dari keseluruhan inilah kepribadian seseorang dapat dinilai, misalnya kepribadian si A menyenangkan, keprbadian si B buruk atau kurang menyenangkan. Dari keseluruhan inilah muncul nam-nama kepribadian diantarnya kepribadian muslim.
1. Aspek-aspek kejasmanian meliputi tingkah laku luar yang mudah nampak dan ketahuan dari luar, misalnya cara berbuat, berbicara dan sebagainya.
2. Aspek-Aspek kejiwaan meliputi aspek-aspek yang tidak segera dapat dilihat dan ketahuan dari luar, misalnya: cara-caranya berfikir, sikap dan minat.
3. Aspek-aspek kerohanian yang luhur: meliputi aspek kejiwaan yang lebih abstrak yaitu filasafat hidup dan kepercayaan. Ini meliputi sistem nilai yang telah meresap dalam kepribadian, yang telah menjadi bagian dan mendarah daging dalam kepribadin atau dan memberi corak seluruh individu tersebut. Bagi orang-orang yang beragama, aspek-aspek inilah yng menuntutnya kearah kebahagiaan, bukan saja didunia tetapi juga di akhirat. Aspek-aspek inilah memberi kualitas kepribadian keseluruhannya. Dari keseluruhan inilah kepribadian seseorang dapat dinilai, misalnya kepribadian si A menyenangkan, keprbadian si B buruk atau kurang menyenangkan. Dari keseluruhan inilah muncul nam-nama kepribadian diantarnya kepribadian muslim.
Pengertian Kepribadian Muslim
Kata kepribadian telah menjadi kosa kata umum dalam percakapan sehari-hari, tidak jarang dari kita yang belum paham benar pengertian kepribadian secara etimologi maupun menurut pendapat para ahli.
Dalam literatur ilmu jiwa kata kepribadian secara etimologi berasal dari kata personality (bahasa Inggris) ataupun persona (bahasa latin), yang berarti kedok atau topeng. Yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain panggung, maksudnya untuk menggambarkan prilaku, watak, atau pribadi seseorang.40
Sementara itu Drs. Suparlan Suryapratondo mengatakan, kata personality sebagai padanan kata kepribadian, selain berarti kedok atau topeng juga berarti menembus (personare). Maksudnya pemain sandiwara itu melalui kedoknya berusaha menembus keluar untuk mengekspresikan satu bentuk gambaran manusia tertentu.41 Tidak jauh berbeda apa yang ditulis Afifuddin.dkk, yang mengatakan:
Kepribadian atau “personality” berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata “proposon” yang berarti topeng (masker) yang biasa digunakan oleh bangsa Yunani kuno untuk bermain sandiwara, atau berasal dari bahasa Romawi “personao” yang berarti pemain drama (sandiwara).42
Dari makna kata tersebut diatas kemudian terumuskan pengertian kepribadian, antara lain oleh Gordon W. allpert mengatakan: Kepribadian adalah oganisasi yang dimanis di dalam individu dari sistem-sistem psikophisik yang menentukan penyesuaian diri yang unik terhadap lingkungannya.43
Drs. Agus sujanto, dkk merumuskan definisi kepribadian sebagai berikut:
Kepribadian adalah suatu totalitas psikophisik yang komplek dari individu, sehingga nampak di dalam tingkah lakunya yang unik.44
Dalam jiwa kepribadian, Drs. Suparlan Suryapratondo menulis definisi kepribadian sebagai berikut:
“Kepribadian adalah suatu totolitas terorganisir dari disposisi-disposisi psychis manusia yang individual, yang memberi kemungkinan untuk memperbedakan ciri-cirinya yang umum dengan pribadi lain.45
Prof. F. Patty, MA. Dkk, dalam bukunya pengantar Psikologi Umum, menyusun definisi kepribadian dari berbagai segi yaitu: pengertian personality dari segi etimologi, filsafat, hukum, sosiologi, dan psikologi.46
Dalam bahasan ini, penulis hanya akan memuat pengertian kepribadian dari segi psikologi. Pengertian menurut Prof. F. Patty MA.dkk, yang dikutip dari pendapat psikologi lain, diantaranya adalah Prince yang mengatakan:
“Kepribadian adalah jumlah dari keseluruhan unsur-unsur biologis, dorongan, kecenderungan, keinginan-keinginan dan naluri-naluri individu, dan juga disposisi serta kecenderungan yang berasal dari pengamalan.”47
Pengertian kepribadian lainnya dikemukakan oleh Warren dan carmichel yang mengatakan:
“Kepribadian adalah keseluruhan organisasi manusia pada setiap tingkat perkembangan.”48
Selain Warren dan Carmichel, A. Geesell juga mengemukakan pengertian kepribadian sebagai berikut:
“Kepribadian adalah suatu perwujudan yang menampakkan integritas dan ciri-ciri tingkah laku yang khas dari organisasi itu.”49
Dalam hal ini bagaimana pengertian kepribadian muslim menurut konsepsi Islam untuk memperoleh kejelasan tentang kepribadian yang dimaksud, akan kita tinjau mengenai teori-teori tentang kepribadian terlebih dahulu. Kepribadian merupakan hasil dari suatu proses sepanjang hidup. Kepribadian bukan terjadi dengan serta merta, akan tetapi terbentuk melalui proses kehidupan yang panjang. Oleh karena banyak faktor yang ikut ambil bagian dalam pembentukan kepribadian manusia tersebut.
Secara definitif kepribadian itu dapat dirumuskan sebagai berikut:
• Kepribadian adalah suatu perwujudan keseluruhan segi manusiawinya yang unik lahir batin dan dalam, antara hubungannya dengan kehidupan sosial dan individunya.
• Kepribadian adalah organisasi yang dinamis dari pada sistem psikophisik dalam individu yang turut menetukan cara-caranya yang unik.
Dari ketiga definisi tersebut nampak jelas bahwa kepribadian itu adalah hasil dari suatu proses kehidupan yang di jalani seseorang.
Oleh karena proses yang dialami tiap orang itu berbeda-beda. Tak ada kepribadian yang sama antara dua orang individu, meskipun saudara kembar yang berasal dari satu sel telur sekalipun.50
Yang di maksud dengan pengertian muslim adalah orang yang secara konsekuen bersikap hidup sesuai dengan ajaran Qur’an dan Sunnah.51
Dari penjelasan diatas dapat diambil pengertian bahwa yang dimaksud dengan kepribadian muslim adalah kepribadian yang seluruh aspek aspeknya yakni baik tingkah laku luarnya, kegiatan-kegiatan jiwanya, maupun filsafat hidup dan kepercayaannya menunjukkan pengabdian kepada Tuhan penyerahan diri kepadanya.52
Kepribadian muslim dari kepribadian orang perorang (Individu) dan kepribadian dalam kelompok masyarakat (Ummah). Kepribadian individu meliputi ciri khas seseorang dalam sikap dan tingkah laku, serta kemampuan intelektual yang dimilikinya. Karena adanya unsur kepribadian yang secara individu, seorang muslim akan memiliki ciri khas masing-masing. Demikian akan ada kepribadian antara seorang muslim dengan muslim lainnya walaupun sebagai individu, masing-masing pribadi itu berbeda. Tapi dalam pembentukan kepribadian muslim sebagai ummah perbedaan itu dipadukan.
Dalam literatur ilmu jiwa kata kepribadian secara etimologi berasal dari kata personality (bahasa Inggris) ataupun persona (bahasa latin), yang berarti kedok atau topeng. Yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain panggung, maksudnya untuk menggambarkan prilaku, watak, atau pribadi seseorang.40
Sementara itu Drs. Suparlan Suryapratondo mengatakan, kata personality sebagai padanan kata kepribadian, selain berarti kedok atau topeng juga berarti menembus (personare). Maksudnya pemain sandiwara itu melalui kedoknya berusaha menembus keluar untuk mengekspresikan satu bentuk gambaran manusia tertentu.41 Tidak jauh berbeda apa yang ditulis Afifuddin.dkk, yang mengatakan:
Kepribadian atau “personality” berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata “proposon” yang berarti topeng (masker) yang biasa digunakan oleh bangsa Yunani kuno untuk bermain sandiwara, atau berasal dari bahasa Romawi “personao” yang berarti pemain drama (sandiwara).42
Dari makna kata tersebut diatas kemudian terumuskan pengertian kepribadian, antara lain oleh Gordon W. allpert mengatakan: Kepribadian adalah oganisasi yang dimanis di dalam individu dari sistem-sistem psikophisik yang menentukan penyesuaian diri yang unik terhadap lingkungannya.43
Drs. Agus sujanto, dkk merumuskan definisi kepribadian sebagai berikut:
Kepribadian adalah suatu totalitas psikophisik yang komplek dari individu, sehingga nampak di dalam tingkah lakunya yang unik.44
Dalam jiwa kepribadian, Drs. Suparlan Suryapratondo menulis definisi kepribadian sebagai berikut:
“Kepribadian adalah suatu totolitas terorganisir dari disposisi-disposisi psychis manusia yang individual, yang memberi kemungkinan untuk memperbedakan ciri-cirinya yang umum dengan pribadi lain.45
Prof. F. Patty, MA. Dkk, dalam bukunya pengantar Psikologi Umum, menyusun definisi kepribadian dari berbagai segi yaitu: pengertian personality dari segi etimologi, filsafat, hukum, sosiologi, dan psikologi.46
Dalam bahasan ini, penulis hanya akan memuat pengertian kepribadian dari segi psikologi. Pengertian menurut Prof. F. Patty MA.dkk, yang dikutip dari pendapat psikologi lain, diantaranya adalah Prince yang mengatakan:
“Kepribadian adalah jumlah dari keseluruhan unsur-unsur biologis, dorongan, kecenderungan, keinginan-keinginan dan naluri-naluri individu, dan juga disposisi serta kecenderungan yang berasal dari pengamalan.”47
Pengertian kepribadian lainnya dikemukakan oleh Warren dan carmichel yang mengatakan:
“Kepribadian adalah keseluruhan organisasi manusia pada setiap tingkat perkembangan.”48
Selain Warren dan Carmichel, A. Geesell juga mengemukakan pengertian kepribadian sebagai berikut:
“Kepribadian adalah suatu perwujudan yang menampakkan integritas dan ciri-ciri tingkah laku yang khas dari organisasi itu.”49
Dalam hal ini bagaimana pengertian kepribadian muslim menurut konsepsi Islam untuk memperoleh kejelasan tentang kepribadian yang dimaksud, akan kita tinjau mengenai teori-teori tentang kepribadian terlebih dahulu. Kepribadian merupakan hasil dari suatu proses sepanjang hidup. Kepribadian bukan terjadi dengan serta merta, akan tetapi terbentuk melalui proses kehidupan yang panjang. Oleh karena banyak faktor yang ikut ambil bagian dalam pembentukan kepribadian manusia tersebut.
Secara definitif kepribadian itu dapat dirumuskan sebagai berikut:
• Kepribadian adalah suatu perwujudan keseluruhan segi manusiawinya yang unik lahir batin dan dalam, antara hubungannya dengan kehidupan sosial dan individunya.
• Kepribadian adalah organisasi yang dinamis dari pada sistem psikophisik dalam individu yang turut menetukan cara-caranya yang unik.
Dari ketiga definisi tersebut nampak jelas bahwa kepribadian itu adalah hasil dari suatu proses kehidupan yang di jalani seseorang.
Oleh karena proses yang dialami tiap orang itu berbeda-beda. Tak ada kepribadian yang sama antara dua orang individu, meskipun saudara kembar yang berasal dari satu sel telur sekalipun.50
Yang di maksud dengan pengertian muslim adalah orang yang secara konsekuen bersikap hidup sesuai dengan ajaran Qur’an dan Sunnah.51
Dari penjelasan diatas dapat diambil pengertian bahwa yang dimaksud dengan kepribadian muslim adalah kepribadian yang seluruh aspek aspeknya yakni baik tingkah laku luarnya, kegiatan-kegiatan jiwanya, maupun filsafat hidup dan kepercayaannya menunjukkan pengabdian kepada Tuhan penyerahan diri kepadanya.52
Kepribadian muslim dari kepribadian orang perorang (Individu) dan kepribadian dalam kelompok masyarakat (Ummah). Kepribadian individu meliputi ciri khas seseorang dalam sikap dan tingkah laku, serta kemampuan intelektual yang dimilikinya. Karena adanya unsur kepribadian yang secara individu, seorang muslim akan memiliki ciri khas masing-masing. Demikian akan ada kepribadian antara seorang muslim dengan muslim lainnya walaupun sebagai individu, masing-masing pribadi itu berbeda. Tapi dalam pembentukan kepribadian muslim sebagai ummah perbedaan itu dipadukan.
Evaluasi pendidikan agama Islam
Evaluasi merupakan suatu proses penafsiran terhadap kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan anak didik dalam rangka untuk mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan yang dimaksud dalam penulisan ini adalah evaluasi pendidikan Islam yaitu suatu kegiatan untuk menentukan taraf kemajuan suatu pekerjaan didalam pendidikan Islam.
Program evaluasi ini diterapkan dalam rangka untuk mengetahui tingkat keberhasilan seorang pendidik dalam menyampaikan materi pelajaran.Menemukan kelemahan-kelemahan yang dilakukan baik yang berkaitan dengan materi, metode fasilitas dan lain sebagainya. Evalusi juga membantu anak didik agar dapat mengubah atau mengembangkan tingkah lakunya secara sadar, serta memberikan upaya cara meraih suatu kepuasan bisa berbuat sebagaimana mestinya.
Adapun evaluasi yang biasa dipergunakan dalam pendidikan agama bisa berupa:
a. Evaluasi formatif.
Yaitu suatu evaluasi yang dilakukan setelah selesai satu pokok bahasan. Evaluasi sering disebut dengan evaluasi jangka pendek. Dalam pelaksanaannya disekolah evaluasi ini merupakan ulangan harian. Evaluasi ini berfungsi untuk menilai kembali validitas, reliabilitas dan obyektifitas evalusi itu sendiri dalam sistem pendidikan dan pengajaran agama yang kita lakukan. Bagaimana pula nilai-nilai unsur pendidikan dan pengajaran (selain alat evalusi) dalam pencapaian tujuan pendidikan agama. Dengan kata lain, fungsi evaluasi formatif untuk memberikan umpan balik ( feed back) pada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan mengadakan remedial (perbaikan) program murid.
b. Evalusi Sumatif.
Yaitu suatu evaluasi yang dilakukan sesudah diselesaikan beberapa pokok bahasan atau disebut evaluasi hasil belajar jangka panjang. Dalam pelaksanaanya disekolah evaluasi disamakan dengan ulangan umum yang biasanya dilakukan pada waktu akhir semester. Evaluasi ini berfungsi untuk menentukan angka kemajuan atau hasil belajar masing-masing murid yang antara lain untuk memeberikan laporan pada orang tua, penentuan kenaikan kelas dan penentuan lulus tidaknya seseorang pada ujian akhir nasional.
c. Evaluasi Placement (penempatan).
Jika cukup banyak calon siswa yang diterima disuatu sekolah, sehingga diperlukan lebih dari satu kelas maka untuk pembagian diperlukan pertimbangan khusus, apakah anak yang baik akan disatukan ataukah dicampur dengan anak yang kurang baik, sedang dan kurang maka diperlukan informasi tersebut dapat diperoleh dengan evaluasi placement. Jadi evaluasi ini adalah untuk menempatkan murid dalam situasi belajar mengajar yang sesuai dengan keadaanya secara tepat.
d. Evaluasi Diagnosis.
Yaitu suatu evaluasi yang berfungsi untuk mengenal latar belakang kehidupan (Psikolaogi, phisik, dan milieu) murid yang mengalami kesulitan belajar dan hasilnya dapat digunakan sebagai dasar dalam memecahkan kesulitan-kesulitan tersebut.
Penilaian dalam pendidikan mempunyai dua fungsi yaitu sebagai pengertian (feed back) dan sebagai peneguhan atau reinforcement.
Sebagai pengertian evaluasi memberikan pedoman bagi guru apakah berhasil atau tidak. Kalau berhasil ia meneruskan strategi yang digunakan, jika tidak maka ia harus merubah strateginya supaya mencapai keberhasilan dari segi kognitif, afektif dan psikomotorik.38
Sebagai peneguhan atau reforcement maka penilaian itu bertugas mengekalkan untuk tingkah laku yang tidak diinginkan. Jika yang diingikan itu adalah akhlaq baik sesuai dengan ajaran Islam, maka ia harus diteguhkan supaya kekal. Salah satu peneguhannya ialah melalui penilaian, dengan pengajaran atau pujian atau mungkin dengan angka. Sebab kalo tidak diteguhkan lama kelamaan akhlaq itu akan hilang dan pendidikan berarti tidak berhasil.
Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa diadakannya program evaluasi atau penilaian adalah untuk mengetahui kadar pemahaman anak didik terhadap materi pelajaran, melatih keberanian dan mengajak anak didik untuk mengingat kembali pelajaran yang telah diberikan kepadanya. Selain itu juga untuk mengetahui siapa anak didik yang lemah, sehinga perlu perhatian secara khusus agar dapat mengejar kekurangannya, sehingga ia naik kelas dan tamat.
Program evaluasi ini diterapkan dalam rangka untuk mengetahui tingkat keberhasilan seorang pendidik dalam menyampaikan materi pelajaran.Menemukan kelemahan-kelemahan yang dilakukan baik yang berkaitan dengan materi, metode fasilitas dan lain sebagainya. Evalusi juga membantu anak didik agar dapat mengubah atau mengembangkan tingkah lakunya secara sadar, serta memberikan upaya cara meraih suatu kepuasan bisa berbuat sebagaimana mestinya.
Adapun evaluasi yang biasa dipergunakan dalam pendidikan agama bisa berupa:
a. Evaluasi formatif.
Yaitu suatu evaluasi yang dilakukan setelah selesai satu pokok bahasan. Evaluasi sering disebut dengan evaluasi jangka pendek. Dalam pelaksanaannya disekolah evaluasi ini merupakan ulangan harian. Evaluasi ini berfungsi untuk menilai kembali validitas, reliabilitas dan obyektifitas evalusi itu sendiri dalam sistem pendidikan dan pengajaran agama yang kita lakukan. Bagaimana pula nilai-nilai unsur pendidikan dan pengajaran (selain alat evalusi) dalam pencapaian tujuan pendidikan agama. Dengan kata lain, fungsi evaluasi formatif untuk memberikan umpan balik ( feed back) pada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan mengadakan remedial (perbaikan) program murid.
b. Evalusi Sumatif.
Yaitu suatu evaluasi yang dilakukan sesudah diselesaikan beberapa pokok bahasan atau disebut evaluasi hasil belajar jangka panjang. Dalam pelaksanaanya disekolah evaluasi disamakan dengan ulangan umum yang biasanya dilakukan pada waktu akhir semester. Evaluasi ini berfungsi untuk menentukan angka kemajuan atau hasil belajar masing-masing murid yang antara lain untuk memeberikan laporan pada orang tua, penentuan kenaikan kelas dan penentuan lulus tidaknya seseorang pada ujian akhir nasional.
c. Evaluasi Placement (penempatan).
Jika cukup banyak calon siswa yang diterima disuatu sekolah, sehingga diperlukan lebih dari satu kelas maka untuk pembagian diperlukan pertimbangan khusus, apakah anak yang baik akan disatukan ataukah dicampur dengan anak yang kurang baik, sedang dan kurang maka diperlukan informasi tersebut dapat diperoleh dengan evaluasi placement. Jadi evaluasi ini adalah untuk menempatkan murid dalam situasi belajar mengajar yang sesuai dengan keadaanya secara tepat.
d. Evaluasi Diagnosis.
Yaitu suatu evaluasi yang berfungsi untuk mengenal latar belakang kehidupan (Psikolaogi, phisik, dan milieu) murid yang mengalami kesulitan belajar dan hasilnya dapat digunakan sebagai dasar dalam memecahkan kesulitan-kesulitan tersebut.
Penilaian dalam pendidikan mempunyai dua fungsi yaitu sebagai pengertian (feed back) dan sebagai peneguhan atau reinforcement.
Sebagai pengertian evaluasi memberikan pedoman bagi guru apakah berhasil atau tidak. Kalau berhasil ia meneruskan strategi yang digunakan, jika tidak maka ia harus merubah strateginya supaya mencapai keberhasilan dari segi kognitif, afektif dan psikomotorik.38
Sebagai peneguhan atau reforcement maka penilaian itu bertugas mengekalkan untuk tingkah laku yang tidak diinginkan. Jika yang diingikan itu adalah akhlaq baik sesuai dengan ajaran Islam, maka ia harus diteguhkan supaya kekal. Salah satu peneguhannya ialah melalui penilaian, dengan pengajaran atau pujian atau mungkin dengan angka. Sebab kalo tidak diteguhkan lama kelamaan akhlaq itu akan hilang dan pendidikan berarti tidak berhasil.
Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa diadakannya program evaluasi atau penilaian adalah untuk mengetahui kadar pemahaman anak didik terhadap materi pelajaran, melatih keberanian dan mengajak anak didik untuk mengingat kembali pelajaran yang telah diberikan kepadanya. Selain itu juga untuk mengetahui siapa anak didik yang lemah, sehinga perlu perhatian secara khusus agar dapat mengejar kekurangannya, sehingga ia naik kelas dan tamat.
Langganan:
Postingan (Atom)